PT DI, Offset, dan Pasar Aerostructure Global

Fasilitas aerostructure PT DI (foto: PT DI)


Dewasa ini, bisnis pembuatan komponen-komponen pesawat terbang tidak hanya menjadi milik perusahaan yang khusus membuat komponen-komponen pesawat terbang (aerostructure manufacturer), tetapi juga menjadi salah satu pilihan industri pesawat terbang dunia (aircraft manufacturer) yang biasanya identik dengan pembuatan pesawat terbang secara utuh.

Potensi bisnis aerostructure di pasar global sangat besar, mencapai miliaran dolar AS per tahun. Tentunya tak ingin dilewatkan begitu saja oleh industri pesawat terbang dunia. Sehingga selain lini bisnis utama sebagai aircraft manufacturer, mereka memiliki usaha sampingan menjadi aerostructure manufacturer. Dengan kata lain, selain membuat pesawat terbang juga membuat komponen pesawat terbang atas pesanan perusahaan lain.

Alasan lainnya tentu saja persaingan industri dirgantara di tingkat global yang saat ini kian ketat, sehingga membutuhkan diversifikasi usaha dibidang aircraft maupun non-aircraft. Apalagi raksasa industri pesawat terbang dunia macam Airbus dan Boeing umumnya fokus pada integrasi pesawat (aircraft integration), sehingga tidak membuat semua komponen pesawatnya, tetapi mensubkontrakan sebagian pekerjaan ke industri dirgantara negara lain.

Bahkan dengan pertimbangan besaran biaya produksi pesawat yang semakin meningkat (sehingga sudah tidak memenuhi skala ekonomis), banyak industri pesawat terbang tidak memproduksi pesawat lagi dan beralih menjadi aerostructure manufacturer. Hal-hal semacam ini dilakukan industri pesawat terbang dunia seperti BAe System dan Fokker.

BAe System yang dulu dikenal sebagai produsen pesawat terbang sekarang beralih menjadi produsen komponen pesawat terbang dan tercatat menjadi salah satu supplier terbesar bagi pesawat terbang buatan Airbus. Begitu juga dengan Fokker yang pernah dinyatakan pailit tahun 1996, sekarang beralih menjadi produsen komponen pesawat terbang bagi Airbus seperti pembuatan komponen composite outboard flaps pesawat Airbus A-350.

Flaps Boeing 737-300 yang dibuat PTDI (foto: PT DI)

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sendiri sebagai perusahaan yang bisnis utamanya bergerak dalam bidang produksi pesawat terbang, tentunya tidak bisa berharap produksi pesawat terbang menjadi satu-satunya sumber pendapatan perusahaan, karena penjualan per tahunnya belum tentu bisa menutup biaya operasional.

Sehingga membuat komponen pesawat terbang menjadi salah satu dimensi bisnis yang digeluti PT DI. Melalui Direktorat Usaha Aerostructure inilah, kegiatan utama membuat komponen pesawat terbang dilakukan. Tidak hanya membuat komponen pesawat terbang bagi pesawat terbang buatan sendiri, tetapi juga mengerjakan pembuatan komponen untuk kepentingan industri pesawat terbang negara lain.

Misalnya penyerahan set yang ke-2000 untuk komponen Airbus A-320/A-321 pada 20 Oktober lalu. Ditengah kondisi perusahaan yang belum pulih benar, tentunya ini menjadi sebuah tanda bangkitnya industri pesawat terbang yang berpusat di Bandung tersebut.

Offset

Sebenarnya jalan pembuatan komponen pesawat terbang dan helikopter sudah dirintis sejak lama oleh PT DI yang dulu masih bernama IPTN. Melalui kerjasama pembuatan pesawat CN-235 dengan CASA Spanyol, PT DI memasok seluruh komponen fuselage belakang dan bagian ekor termasuk sayap bagian luar (outer wing) pesawat CN-235.

Kemudian pembelian 12 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon pada tahun 1986 yang dilakukan dengan sistem offset (imbal produksi), sehingga memberi hak kepada PT DI untuk memasok sejumlah komponen meliputi forward engine access door, main landing gear door, wing flaperon, vertical finskin, weapon pylon dan fuel tank pylon. Ini tidak terlepas dari lobi yang dilakukan Menristek B.J Habibie sehingga akhirnya General Dynamics memberikan offset 35% dari harga pembelian pesawat.


Pembelian pesawat terbang dari industri pesawat terbang suatu negara, maka negara pembeli bisa meminta offset sebagai imbalan atas pembelian pesawat terbang tersebut. Dengan begitu, industri pesawat terbang di negara penjual akan mensubkontrakkan pembuatan aerostructure atau komponen-komponen pesawatnya ke industri pesawat terbang di negara pembeli.

Komponen sayap A-380 yang dibuat PT DI (Foto PT DI)

Hal ini bisa terjadi apabila negara pembeli mempunyai industri yang dapat menghasilkan komponen-komponen pesawat terbang yang sesuai dengan standar internasional. Cara ini memang sangat menguntungkan karena negara pembeli akan mendapatkan bagian pekerjaan dari pembeliannya, sehingga tetap memberdayakan industri pesawat terbang di dalam negeri. Selain itu juga mampu meningkatkan kemampuan dalam menguasai teknologi pembuatan komponen pesawat terbang yang lebih kompleks.

Melihat besarnya manfaat yang diperoleh industri dirgantara dari offset, perlu kiranya pemerintah menggulirkan kembali sistem offset yang dulu sempat diterapkan Menristek B.J Habibie di era Orde Baru. Offset bisa memberi kesempatan yang jauh lebih besar bagi industri dirgantara nasional untuk maju. Jika program offset ini diterapkan di Indonesia, maka bisa meningkatkan pangsa pasar aerostructure PT DI di tingkat internasional dan tentunya menggerakkan kembali roda bisnis perusahaan pesawat terbang dalam negeri.

Ambil contoh saja, pembelian pesawat Boeing B737-800NG oleh Garuda Indonesia, Boeing B737 MAX dan B737-900ER oleh Lion Air, ATR72-500 oleh Wings Air, Embraer ERJ-190 oleh Sriwijaya Air, dan Sukhoi Superjet-100 (SSJ-100) oleh Kartika Airlines. Saat ini, pembelian pesawat sebanyak itu tidak memberi manfaat apapun bagi PT DI, kecuali manfaat dalam bidang jasa perawatan pesawat (Maintenance, Repair, Overhaul-MRO) seperti yang dilakukan GMF Aero Asia, itupun jika maskapai penerbangan “tak lari” untuk memilih perusahaan MRO asing.

Sebenarnya Indonesia bisa mencontoh kesuksesan China yang telah menerapkan offset. Pemerintah China mengharuskan industri dirgantara asing melibatkan industri kedirgantaraanya bila ingin memasuki pasar China. Hal seperti itu telah dilakukan Airbus dengan membangun pabrik pesawat penumpang A-320 di Tianjin China. Kemudian ada Embraer dari Brasil yang mendirikan perusahaan patungan Harbin Embraer Aircraft Industry di Provinsi Heilongjiang yang  khusus membuat pesawat jet ERJ untuk pasar China.


Selain itu masih ada Boeing yang membelanjakan jutaan dollar AS untuk komponen buatan China. Jadi jangan heran, jika pesawat Airbus, Embraer, dan Boeing yang lalu lalang di langit dunia mengandung begitu banyak komponen pesawat buatan China. Sayangnya pemerintah sebagai pembuat kebijakan belum melihat kearah sana.

Terlepas dari itu semua, sesungguhnya pangsa pasar aerostructure PT DI cukup bagus. Ini bisa dilihat dari semakin meningkatnya order komponen pesawat terbang. Pesanan komponen pesawat terbang yang sedang diselesaikan oleh PT DI diantaranya pembuatan komponen Airbus A-320/A-321 (program paragon), komponen sayap Airbus A-350, komponen fuselage dan tailboom helikopter EC-725/EC-225.

Bahkan pada tahun 2008 lalu PT DI mendapatkan penghargaan "Best Performance Supplier 2007" dari Spirit Aerosystems (Europe) Ltd, Inggris. Ini tentunya bisa menjadi bukti bahwa PT DI memiliki kemampuan yang mumpuni dalam pembuatan komponen-komponen pesawat berstandar internasional.

Seperti diketahui, untuk mendapatkan proyek pesanan komponen pesawat terbang itu tidak mudah, biasanya dilakukan melalui tender yang berarti harus bersaing dengan industri sejenis dari luar negeri atau melalui penunjukan langsung yang tentu saja membutuhkan kepercayaan yang tinggi dari pihak produsen pesawat terbang.

Ditengah ketatnya persaingan industri dirgantara, pembuatan komponen pesawat terbang tentunya merupakan upaya PT DI untuk masuk menjadi supplier global. Sekaligus menjadi bukti bahwa industri dirgantara nasional mampu maju dan berkembang untuk bersaing di pasar global.

Yudi Supriyono, 19 Januari 2012

Sumber:http://www.aviasista.com/2012/01/pt-di-offset-dan-pasar-aerostructure.html dimuat seijin penulis

Satu Dekade Sukhoi

Buat Rekan-rekan yang belum sempat memesan buku "Satu Dekade Sukhoi Indonesia" dengan ini kami mengumumkan bahwa pemesanan telah ditutup karena buku telah habis terjual. Bagi yang berminat buku ini masih bisa didapatkan di toko buku Periplus.

Who's Online

We have 53 guests and no members online