Keyakinan, Modal Penting untuk Berhasil jadi Pengusaha

Keyakinan, Modal Penting untuk Berhasil jadi Pengusaha

Seorang pengusaha terlilit utang dan tidak menemukan jalan keluarnya. Ia duduk di kursi taman umum dengan kondisi sangat sedih dan galau sambil bertanya-tanya, seandainya ada orang yang bisa menyelamatkan dirinya dan perusahaannya dari kebangkrutan.

Di tengah lamunannya itu tiba-tiba muncul seorang kakek, lalu berkata, “Saya melihatmu sedang galau?” Setelah mendengar cerita pengusaha tersebut, sang kakek berkata kepadanya, “Saya yakin bisa membantumu. Kemudian kakek bertanya namanya, lalu menulis cek dan memberikannya kepada pengusaha tersebut seraya berkata, “Ambil uang ini dan temui aku tahun depan di tempat ini untuk mengembalikan uang tersebut.” Setelah itu sang kakek pun pergi.

Pengusaha ini kaget karena di tangannya ada cek senilai 100 milyar rupiah ditandatangani oleh seorang konglomerat, M. Riyadi, lalu ia berkata dengan penuh keyakinan dan semangat, “Dengan uang ini sekarang saya bisa menghalau kesedihanku.” Kemudian ia berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk menyimpan cek tersebut dan berusaha menjaga perusahaannya dari kebangkrutan tanpa mencairkan cek sedapat mungkin. Cek tersebut hanya dijadikan sebagai sumber kekuatan dan motivasi.

Kemudian ia berangkat ke perusahaannya dengan penuh optimisme. Ia mulai bekerja dan melakukan berbagai negosiasi dengan sukses bersama para pemberi pinjaman untuk menunda tanggal pembayaran. Ia akhirnya berhasil melakukan penjualan besar yang menguntungkan perusahaannya sehingga dalam beberapa bulan saja bisa membayar semua hutangnya dan mulai mendapat keuntungan lagi.

Setelah berakhir waktu setahun yang ditentukan sang kakek, pengusaha ini pun pergi ke taman dengan penuh semangat, lalu mendapati kakek tersebut sedang menunggunya di kursi.

Pengusaha ini tidak bisa bersabar hingga segera memberikan cek yang tidak sempat dicairkan tersebut kepada sang kakek. Ia mulai menceritakan kesuksesannya tanpa mencairkan cek. Tetapi, tiba-tiba datang dengan tergopoh-gopoh seorang perawat ke arah sang kakek seraya berkata, “Alhamdulillah, saya menemukanmu di sini. Kemudian perawat ini menarik tangan sang kakek sambil berkata kepada pengusaha tersebut, “Mudah-mudahan dia tidak mengganggumu karena dia selalu lari dari rumah sakit jiwa di dekat taman ini dan selalu mengaku sebagai konglomerat, M. Riyadi.”

Pengusaha ini terkejut sambil memikirkan kerja keras setahun penuh yang dilakukannya untuk menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan melalui berbagai transaki jual beli dan negosiasi dengan sangat kuat karena merasa di tangannya ada 100 milyar rupiah.

Akhirnya ia menyadari, bukan uang yang mengubah kehidupannya dan menyelamatkan perusahaannya, tetapi rasa percaya diri atau keyakinan yang telah membuatnya memiliki kekuatan untuk melewati bahaya kebangkrutan dan mewujudkan kesuksesan.

Pelajaran:
Materialisme adalah penyakit pemikiran, mentalitas dan sikap yang membuat seseorang bergantung pada materi dalam segala urusan. Penyakit ini bisa merasuki siapa saja.

Bisa merasuki pengusaha sehingga membuatnya merasa tidak punya peluang sukses dalam bisnis karena tidak punya modal besar. Padahal, banyak para pengusaha sukses yang memulai usahanya dari nol. Karena, mereka punya modal semangat, keahlian, kerja keras dan keyakinan yang kuat kepada Allah. Abdurrahman bin Auf r.a., Utsman bin Affan r.a. dan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. adalah contoh para pengusaha sukses yang berangkat dari nol dari sisi finansial karena mereka berhijrah ke Madinah tanpa membawa dana dan modal usaha sama sekali. Tetapi, mereka punya semangat, keahlian, integritas dan yang paling penting keyakinan yang kuat kepada Allah, bukan kepada materi.

Penyakit ini bisa merasuki para penuntut ilmu sehingga membuat mereka merasa tidak punya penopang untuk sukses di bidang ilmu. Padahal banyak ulama besar yang dahulunya miskin dan yatim dengan keterbatasan materi, tetapi bisa menjadi ulama besar. Salah satu contohnya adalah Imam Syafi’i. Beliau yatim sejak kecil dan diasuh oleh ibunya yang miskin. Ibunya membawanya hijrah dari Gaza ke Mekah. Di Mekah, Imam Syafi”i kecil belajar di Masjidil Haram dan sepulang dari kajian, beliau memunguti pecahan-pecahan tembikar, papan-papan kayu dan pelepah kurma untuk menulis ilmu yang didapatnya. Hingga akhirnya kamar kecil yang ditempatinya bersama ibunya penuh dengan pecahan-pecahan tembikar, papan kayu dan pelepah kurma hingga ibunya merasa terganggu.

Supaya tidak memenuhi kamar, Imam Syafi’i kemudian menghafal semua catatannya itu lalu, membakarnya. Sejak itu Imam Syafi’i tidak lagi mencatat ilmu yang didapat, tetapi menghafalnya hingga akhirnya menjadi ulama besar.

Penyakit materialisme juga bisa merasuki para aktivis dakwah sehingga membuat mereka merasa pesimis karena tidak memiliki dukungan dana dan sarana material. Padahal Allah sudah memberi contoh dan bukti sejarah di perang Badar dan lainnya, bagaimana kaum muslimin yang berjumlah lebih sedikit dan tidak didukung sarana material yang memadai, tetapi bisa memenangkan pertempuran, dengan izin Allah, melawan musuh yang jauh lebih besar jumlah pasukannya dan sarana materialnya.

Bahkan, penyakit ini bisa mengubah orientasi para aktivis dakwah di tengah perjalanan sehingga mereka selalu mengaitkan aktivitas dan semangat dakwah dengan perolehan materi dan posisi. Jika menguntungkan dirinya, ia semangat dan aktif bergerak. Tetapi, jika tidak menguntungkan dirinya, ia malas bergerak dan kehilangan motivasi. Mereka terkena penyakit yang menimpa orang-orang munafik (at-Taubah [9]: 42). Semoga Allah melindungi kita semua dari penyakit ini.

Penyakit ini juga bisa menimpa masyarakat umum sehingga membuat mereka menilai baik dan buruk, benar dan salah, untung dan buntung, dengan materi yang didapat. Karena itu mereka rawan menjadi korban pencitraan kaum elit yang berduit. Allah berfirman,

“Maka, keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (al-Qashash [28]: 79)

Obatnya adalah kembali kepada pemahaman yang benar dan keimanan yang kuat kepada Allah, bukan kepada materi. (al-Qashash [28]: 80).

Leave a Reply

Close Menu